Jika Anda sedang membuat sabun cair, sampo, deterjen, atau produk pembersih, kemungkinan besar Anda pernah menemukan dua bahan dengan nama yang sangat mirip: SLS dan SLES.

Keduanya merupakan surfaktan anionik yang berfungsi membantu air membasahi permukaan, mengangkat minyak dan kotoran, serta menghasilkan busa.

Namun, SLS dan SLES bukan bahan yang sama.

Perbedaan struktur kimia membuat keduanya memiliki karakter yang berbeda dalam hal daya bersih, mildness terhadap kulit, bentuk bahan baku, kemudahan formulasi, hingga sistem pengentalan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar:

“Mana yang lebih bagus, SLS atau SLES?”

Tetapi:

“Mana yang lebih sesuai dengan produk yang sedang saya formulasi?”

Mari kita bahas.

Apa Itu SLS?

SLS (Sodium Lauryl Sulfate) adalah surfaktan anionik yang banyak digunakan sebagai bahan pembusa dan pembersih.

Dalam perdagangan bahan kimia, SLS biasanya tersedia dalam bentuk powder, granule, atau needle dengan kadar bahan aktif yang relatif tinggi.

Contohnya adalah produk seri EMAL dari Kao seperti EMAL 10N dan EMAL 10P-HD.

Kao mencantumkan EMAL 10N sebagai Sodium Lauryl Sulfate dengan bentuk needle dan active matter sekitar 95%. SLS jenis ini digunakan sebagai cleansing dan foaming agent pada berbagai aplikasi home care maupun personal care.

Secara umum, SLS dikenal mempunyai:

  • kemampuan pembasahan yang baik,
  • daya detergensi yang kuat,
  • busa yang tinggi,
  • konsentrasi bahan aktif tinggi,
  • dan tersedia dalam bentuk padat sehingga cocok untuk berbagai produk powder maupun solid.

Apa Itu SLES?

SLES (Sodium Laureth Sulfate atau Sodium Lauryl Ether Sulfate) juga merupakan surfaktan anionik.

Perbedaannya, rantai alkohol pada SLES mengalami proses etoksilasi terlebih dahulu sebelum proses sulfasi.

Karena terdapat gugus ethoxy pada strukturnya, karakter SLES berbeda dibandingkan SLS, terutama dalam aplikasi formulasi cair dan produk personal care.

Di pasar bahan baku Indonesia, salah satu bentuk yang paling umum adalah:

SLES 70% berbentuk pasta kental.

Nama dagang seperti Texapon sangat dikenal oleh formulator, meskipun “Texapon” sebenarnya merupakan merek dagang dan bukan nama generik bahan.

SLES sering digunakan sebagai surfaktan utama pada:

  • sabun cuci piring,
  • sabun cuci tangan,
  • body wash,
  • shampoo,
  • liquid detergent,
  • dan berbagai produk pembersih cair lainnya.

SLS vs SLES: Apa Perbedaannya?

Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut.

ParameterSLSSLES
NamaSodium Lauryl SulfateSodium Laureth Sulfate / Sodium Lauryl Ether Sulfate
Jenis surfaktanAnionikAnionik
EtoksilasiTidakYa
Bentuk umum di pasarPowder, granule, needlePasta / viscous liquid
Active matterUmumnya tinggi pada grade powderUmumnya sekitar 70% untuk SLES paste
Daya detergensiTinggiTinggi
Karakter busaTinggiTinggi dan sangat cocok untuk sistem cair
MildnessUmumnya lebih agresifUmumnya lebih mild dibanding SLS
Formulasi liquid soapBisa digunakanSangat umum digunakan
Pengentalan dengan NaClTergantung sistem formulasiUmumnya sangat kompatibel dengan sistem salt-thickening tertentu

Yang perlu diperhatikan: performa aktual tidak hanya ditentukan oleh SLS atau SLES saja.

Kadar surfaktan, pH, co-surfactant, elektrolit, fragrance, solvent, dan bahan lain dalam formula ikut menentukan performa akhir produk.


Apakah SLES Lebih Lembut daripada SLS?

Secara umum, ya.

SLES biasanya dipilih ketika formulator membutuhkan kombinasi antara:

  • cleansing,
  • busa,
  • kemudahan formulasi cair,
  • dan mildness yang lebih baik.

Namun, bukan berarti SLES otomatis menjadi surfaktan yang “tidak menyebabkan iritasi”.

Potensi iritasi tetap sangat dipengaruhi oleh:

  • konsentrasi surfaktan aktif,
  • lama kontak dengan kulit,
  • pH formula,
  • kombinasi surfaktan,
  • serta keseluruhan sistem formulasi.

Karena itu pada produk seperti body wash, hand wash, atau shampoo, SLES sering dikombinasikan dengan surfaktan yang lebih mild seperti:

CAPB (Cocamidopropyl Betaine).

Kombinasi SLES + CAPB sangat populer karena dapat membantu mendapatkan keseimbangan antara:

  • cleansing,
  • foam quality,
  • viscosity,
  • dan mildness.

Apakah SLS Selalu Lebih Kuat Membersihkan daripada SLES?

Tidak sesederhana itu.

SLS memang sering dianggap mempunyai karakter detergensi yang lebih agresif. Namun performa pembersihan produk tidak bisa dinilai hanya berdasarkan nama surfaktannya.

Misalnya, formula dengan:

15% SLES active

dapat mempunyai performa yang berbeda jauh dibandingkan formula dengan:

5% SLS active.

Selain itu, builders, solvent, alkalinity, chelating agent, dan jenis kotoran juga sangat berpengaruh.

Jadi dalam formulasi profesional:

Jangan memilih surfaktan hanya berdasarkan klaim “lebih kuat”.

Lihat keseluruhan sistem formulasinya.


Bagaimana dengan Busa SLS dan SLES?

Keduanya termasuk surfaktan dengan kemampuan menghasilkan busa yang baik.

SLS dikenal mempunyai high foaming performance dan digunakan oleh Kao sebagai cleansing dan foaming agent untuk personal care maupun home care.

Sementara SLES sangat populer pada produk cair karena dapat menghasilkan busa yang baik sekaligus mudah dikombinasikan dengan co-surfactant seperti CAPB atau amine oxide.

Tetapi perlu diingat:

lebih banyak busa tidak selalu berarti lebih bersih.

Busa adalah salah satu karakter sensorik produk, bukan satu-satunya indikator detergensi.


Perbedaan Penting Lainnya: Bentuk Bahan Baku

Untuk formulator, perbedaan bentuk fisik sering kali sama pentingnya dengan perbedaan kimia.

SLS

SLS banyak tersedia sebagai:

  • powder,
  • granule,
  • needle.

Contohnya, Kao memiliki seri EMAL dalam bentuk granule, needle, dan powder.

Bentuk padat ini membuat SLS menarik untuk:

  • powder detergent,
  • solid cleaner,
  • toothpaste,
  • bar products,
  • maupun formulasi tertentu yang membutuhkan surfaktan dengan active matter tinggi.

Namun SLS powder juga membutuhkan perhatian terhadap proses pencampuran dan pengendalian debu.

SLES

SLES 70% biasanya berbentuk:

pasta sangat kental.

Karena itu proses produksinya berbeda.

Pada produksi sabun cair, SLES biasanya perlu didispersikan dan dilarutkan secara bertahap agar tidak membentuk gumpalan atau menghasilkan aerasi berlebihan.


Bagaimana dengan Pengentalan Menggunakan Garam?

Inilah salah satu alasan SLES sangat populer untuk sabun cair.

Pada sistem surfaktan tertentu, khususnya kombinasi seperti:

SLES + CAPB + NaCl

viskositas dapat meningkat hanya dengan penambahan garam.

Namun ada hal penting yang sering dilewatkan pemula:

Semakin banyak garam tidak berarti semakin kental.

Sistem surfaktan mempunyai salt curve.

Pada awalnya penambahan NaCl meningkatkan viskositas. Setelah melewati titik optimum, penambahan garam berikutnya justru dapat:

menurunkan viskositas kembali.

Karena itu garam sebaiknya ditambahkan secara bertahap pada tahap akhir formulasi sambil terus mengevaluasi viskositas.


Kapan Sebaiknya Menggunakan SLES?

SLES merupakan pilihan yang sangat praktis untuk berbagai produk pembersih cair.

Contohnya:

Sabun cuci piring

SLES dapat menjadi primary surfactant yang memberikan cleansing dan foam.

Umumnya dikombinasikan dengan:

  • CAPB,
  • amine oxide,
  • atau surfaktan lain.

Hand wash

SLES sering digunakan karena keseimbangan antara:

cleansing + foam + cost + ease of formulation.

Body wash

Dapat digunakan sebagai primary surfactant, biasanya dalam sistem surfaktan yang sudah dirancang agar lebih mild.

Shampoo

SLES merupakan salah satu surfaktan yang sangat umum digunakan sebagai basis shampoo.

Liquid detergent

SLES juga dapat digunakan bersama surfaktan lain seperti:

  • LAS,
  • nonionic surfactant,
  • amphoteric surfactant,
  • maupun builders.

Kapan Sebaiknya Menggunakan SLS?

SLS menarik ketika formulator membutuhkan:

  • active matter tinggi,
  • bentuk powder atau granule,
  • detergensi dan foaming yang kuat,
  • atau sistem produk yang tidak membutuhkan SLES paste.

Aplikasinya tidak terbatas pada industrial cleaner.

Kao mencantumkan SLS seri EMAL untuk berbagai aplikasi seperti:

  • detergent,
  • toothpaste,
  • shampoo,
  • bar soap,
  • home care,
  • dan personal care.

Jadi anggapan bahwa “SLS hanya untuk produk keras atau industrial cleaner” kurang tepat.

Yang harus diperhatikan adalah grade bahan dan desain formulanya.


SLS atau SLES untuk Sabun Cair?

Untuk sebagian besar formulasi sabun cair konvensional, SLES biasanya lebih praktis.

Alasannya:

  1. mudah digunakan sebagai primary surfactant,
  2. kompatibel dengan banyak co-surfactant,
  3. mempunyai karakter busa yang baik,
  4. mudah dibuat menjadi sistem liquid,
  5. dan cukup fleksibel dalam pengaturan viskositas.

Karena itu kombinasi seperti:

SLES + CAPB

menjadi salah satu sistem surfaktan paling populer untuk sabun cair.


Jadi, Mana yang Lebih Baik: SLS atau SLES?

Tidak ada jawaban universal.

Pilih SLES jika:

  • produk Anda berbentuk cair,
  • membutuhkan keseimbangan antara cleansing dan mildness,
  • ingin menggunakan sistem pengentalan berbasis elektrolit,
  • atau sedang membuat hand wash, dishwashing liquid, shampoo, maupun body wash.

Pertimbangkan SLS jika:

  • membutuhkan surfaktan dengan active matter tinggi,
  • membutuhkan bentuk powder/granule/needle,
  • membuat powder detergent atau solid formulation,
  • atau karakter SLS memang lebih sesuai dengan target formulasi Anda.

Dalam banyak kasus, formulator bahkan tidak memilih berdasarkan “SLS vs SLES” saja.

Mereka mempertimbangkan:

jenis produk → target active surfactant → performa → mildness → viscosity → proses produksi → cost.

Itulah pendekatan yang lebih tepat.


FAQ SLS dan SLES

Apakah SLS dan SLES sama?

Tidak. Keduanya merupakan surfaktan anionik, tetapi SLES mempunyai gugus ethoxy yang berasal dari proses etoksilasi.

Apakah SLES lebih lembut daripada SLS?

Secara umum SLES memiliki karakter yang lebih mild dibandingkan SLS, tetapi potensi iritasi tetap bergantung pada konsentrasi dan keseluruhan formula.

Apakah SLES bisa digunakan untuk sabun cuci piring?

Ya. SLES merupakan salah satu surfaktan utama yang sangat umum digunakan dalam formulasi sabun cuci piring cair.

Apakah SLES bisa dikentalkan menggunakan garam?

Pada sistem formulasi tertentu, terutama kombinasi SLES dengan surfaktan seperti CAPB, NaCl dapat digunakan untuk mengatur viskositas. Penambahannya harus bertahap karena terdapat titik optimum atau salt curve.

Apakah SLS hanya untuk deterjen?

Tidak. SLS juga digunakan pada berbagai aplikasi personal care seperti toothpaste dan shampoo, tergantung grade dan formulanya.


Butuh SLES atau SLS untuk Formulasi?

Solusi Kimia Nusantara menyediakan bahan baku surfaktan untuk kebutuhan formulasi home care, cleaning, dan berbagai aplikasi industri.

Beberapa produk yang dapat Anda konsultasikan antara lain:

  • SLES 70%
  • Sodium Lauryl Sulfate / SLS
  • CAPB
  • serta bahan pendukung formulasi lainnya.

Pemilihan bahan sebaiknya disesuaikan dengan jenis produk, target performa, konsentrasi bahan aktif, dan proses produksi yang digunakan.

Untuk kebutuhan kemasan kecil maupun kebutuhan usaha, Anda dapat menghubungi Solusi Kimia Nusantara untuk informasi ketersediaan produk dan spesifikasi bahan.